Jurnal Studi Islam Indonesia (JSII)
https://ejournal.lapad.id/jsii
<p align="justify" data-sider-select-id="5119fece-69e0-4b74-b004-1e03995887c9"><strong data-sider-select-id="8a86cbaf-00a6-42db-9157-7e94975e21f2">Jurnal Studi Islam Indonesia (JSII)</strong> is published twice a year; in June and December, This journal, serves as a forum for Islamic Studies in Indonesia and other parts of the world in a local and global context and supports interdisciplinary studies. It has become a medium of diffusion and the exchange of ideas and research findings.</p> <p align="justify" data-sider-select-id="396dc972-cd07-4d05-b5e2-7e511186e310"><strong data-sider-select-id="c5c74136-d979-431b-988d-104ee6458eb3">Jurnal Studi Islam Indonesia (JSII)</strong> accepts articles written based on research results which meet these following scopes:<strong> Islamic Philosophy,Islamic Thought and Literature, Islam and Peace, Science & Civilization in Islam, Islam in local area, Muslim community, Islamic Education, Islamic Law, Islamic Economics and Business, Qur'ani and Hadith Studies.</strong> Thus, Indonesian and non-Indonesian scholars are invited to publish articles in this journal.</p> <p align="justify">Jurnal Studi Islam Indonesia (JSII) has been trying all the time to provide highly qualified scientific articles improvements in terms of format, style, and academic quality. It continues to publish research and studies relating to Islamic studies with various dimensions and approaches. The articles published in the jurnal can be written in Indonesian or English and with a fair peer-review procedure.</p>Publication and Inovasi Researchen-USJurnal Studi Islam Indonesia (JSII)2987-8977Etika Ilmu Pengetahuan Dalam Islam
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1542
<p>Ilmu pengetahuan dalam Islam dipandang sebagai kebutuhan manusia dalam mencapai kesejahteraan hidup didunia dan memberi kemudahan dalam mengenal tuhan.Oleh karena itu ,Islam memandang bahwa ilmu pengetahuan merupakan bagian dari pelaksanaan kewajiban manusia sebagai makhluk Allah SWT. yang berakal.Etika islam menawarkan panduan universal yang dapat mengarahkan penggunaan ilmu menuju keberkahan dan kemaslahatan umat.Artikel ini bertujuan menganalisis konsep etika ilmu pengetahuan dalam Islam mencakup prinsip prinsip dasar seperti niat yang ikhlas, tanggung jawab, dan keadilan. Penelitian ini menemukan bahwa etika ilmu pengetahuan dalam Islam menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aspek spiritual dan material. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi antara etika dan ilmu pengetahuan dalam Islam dapat menciptakan harmoni dalam kehidupan Islam, ekonomi, dan politik, serta menjadi solusi terhadap tantangan di era modern</p>Riski Ananda SyafitriAhmad Sopian
Copyright (c) 2026 Riski Ananda Syafitri, Ahmad Sopian
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-072026-05-07411810.61930/jsii.v4i1.1542Peran Metode Talqin Dalam Pembelajaran Baca Al-Qur’an (Kajian Tafsir QS. Al-Qiyamah Ayat 16-19)
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1501
<p>Metode <em>Talqin</em> adalah pendekatan tradisional yang menekankan pendiktean dan peniruan bacaan Al-Qur’an untuk membantu pembelajaran membaca, menghafal, dan memperbaiki pelafalan sesuai <em>tajwid</em> dan <em>makharijul huruf</em>. Artikel ini mengkaji peran metode <em>Talqin</em> dalam pembelajaran baca Al-Qur’an melalui analisis Surah Al-Qiyamah: 16-19, yang menjelaskan proses pewahyuan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif terhadap kitab tafsir dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode <em>Talqin</em> memiliki prinsip esensial seperti pengulangan terstruktur, koreksi langsung, dan pendampingan intensif, yang relevan untuk berbagai usia. Di era modern, metode ini dapat diintegrasikan dengan teknologi seperti pembelajaran daring, dan platform digital untuk meningkatkan efektivitas dan aksesibilitas pembelajaran. <em>Talqin</em> tetap relevan sebagai pendekatan otentik dalam menjaga keaslian bacaan Al-Qur‘an sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan pembelajaran masa kini.</p>Faishal Azmi
Copyright (c) 2026 Faishal Azmi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-072026-05-074192210.61930/jsii.v4i1.1501Al-Qur’an, Hadits Dan Ilmu Pengetahuan
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1543
<p>Dengan menggabungkan wawasan dari pembelajaran di Madrasah Aliyah serta penelitian kepustakaan (library research) yang luas, studi ini menjawab kegelisahan akademik mengenai pemisahan antara agama dan sains yang terus berlanjut di era modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang bagaimana Al-Qur'an dan Hadits menetapkan prinsip-prinsip dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Metodologi yang digunakan adalah studi pustaka, yang melibatkan analisis mendalam terhadap teks-teks suci, buku elektronik (e-book), dan karya ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan antara pengetahuan agama dan duniawi. Studi ini menyimpulkan bahwa bentuk ilmu pengetahuan yang ideal dalam Islam adalah yang mengintegrasikan penalaran berpikir logis dengan bimbingan wahyu. penggabungan semacam ini mendorong kemajuan teknologi dengan tetap berakar kuat pada nilai-nilai spiritual serta memberikan manfaat praktis bagi kemanusiaan.</p>Surya NadikaAhmad Sopian
Copyright (c) 2026 Surya Nadika, Ahmad Sopian
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-072026-05-0741233210.61930/jsii.v4i1.1543Internalisasi Nilai Tauhid Sebagai Upaya Preventif Terhadap kesyirikan Melalui Pendidikan Qurani
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1502
<p class="16bIsiAbstrak"><span lang="IN">Pendidikan tauhid memiliki peran strategis dalam internalisasi nilai tauhid sebagai pondasi keimanan sekaligus upaya preventif terhadap syirik. Artikel ini bertujuan menganalisis peran pendidikan tauhid dalam membentuk pola pikir, akhlak, dan perilaku umat Islam, serta menyusun strategi pendidikan yang dapat diterapkan efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir tematik dengan metode studi kepustakaan, mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an serta literatur pendukung. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan tauhid efektif dalam meningkatkan kesadaran akan bahaya syirik dan membangun keimanan yang kokoh. Strategi seperti pemberian nasihat, metode debat, serta pemanfaatan ibadah seperti zikir dan salat, terbukti mendukung upaya ini. Dengan demikian, pendidikan tauhid menjadi solusi integral dalam membentuk masyarakat yang berlandaskan tauhid dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.</span></p>Cita Rahasti Purnamasari
Copyright (c) 2026 Cita Rahasti Purnamasari
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-072026-05-0741336410.61930/jsii.v4i1.1502Pengasuhan Qur’ani: Relevansi Kisah Nabi Yusuf dengan Negative Inner Child
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1503
<p>Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian individu, khususnya melalui pengasuhan yang merupakan amanah dalam Islam. Namun, di era digital, tantangan pengasuhan semakin kompleks dengan adanya arus informasi dan media sosial yang memengaruhi pembentukan karakter dan kepribadian individu. Fenomena <em>negative inner child</em>, yang berakar pada luka masa kecil yang belum terobati, kini menjadi isu relevan, terutama terkait dengan kecemasan dan ketidakpuasan diri. Berdasarkan Laporan Digital 2024, lebih dari 5 miliar pengguna media sosial global memicu fenomena <em>Fear of Missing Out</em> (FOMO) yang turut memperburuk kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh <em>negative inner child</em> terhadap individu, mengeksplorasi relevansi kisah Nabi Yusuf dengan konsep ini di era digital, dan menggali panduan pengasuhan Qur’ani yang dapat mengatasi <em>negative inner child</em>. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, data dikumpulkan dari sumber primer (Al-Qur’an, hadis, dan kitab tafsir) serta sumber sekunder (artikel, buku, dan penelitian terkait). Analisis dilakukan secara deskriptif dengan metode <em>tafsir maudhu’i </em>sebagaimana dirumuskan oleh Al-Humaidhi, untuk mengintegrasikan nilai Qur’ani dengan teori psikologi modern dalam konteks pengasuhan. <strong>Hasil penelitian menunjukkan</strong> bahwa <em>negative inner child</em> berpengaruh signifikan terhadap kondisi psikologis serta pembentukan dan perkembangan karakter. Kisah Nabi Yusuf memberikan teladan pengasuhan berbasis kasih sayang, pengampunan, ketahanan emosional, dan penanaman iman, yang relevan untuk mengatasi luka emosional berupa <em>negative inner child</em> dan membangun karakter tangguh, terutama di era digital yang penuh distraksi sosial. Penelitian ini menawarkan solusi holistik berupa pendekatan preventif (pencegahan), korektif (perbaikan), dan preservatif (pemeliharaan karakter), sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan kajian pengasuhan, psikologi, dan nilai-nilai Qur’ani.</p>Khoirunnisa Khoirunnisa
Copyright (c) 2026 Khoirunnisa Khoirunnisa
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-122026-05-12416510210.61930/jsii.v4i1.1503Standar Tartil Dalam Al-qur'an Perspektif Ibrahim As-Samannudi
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1473
<p>Pembacaan Al-Qur'an dengan tartil, baik dalam salat maupun di luar salat, perlu mendapatkan perhatian serius dari umat Muslim. Hal ini disebabkan oleh kewajiban<em> tartil</em> sebagai bagian dari perintah Allah dalam membaca Al-Qur'an sesuai dengan kaidah tajwid. Artikel ini secara khusus mengkaji standar pembacaan Al-Qur'an secara<em> tartil</em> berdasarkan perspektif Ibrahim As-Samannudi, seorang ulama qira'at kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menjelaskan konsep serta standar <em>tartil </em>dalam teori tajwid sebagaimana dipaparkan dalam syarah <em>At-Tuhfah As-Samannudiyyah fi Tajwid Al-Kalimat Al-Qur'aniyyah</em>. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif berbasis kajian kepustakaan, penelitian ini menyoroti aspek teknis tajwid, seperti <em>makharij huruf, sifat huruf, waqaf,</em> dan hukum-hukum tajwid lainnya, yang mendukung pembacaan perlahan, jelas, dan teratur. Hasil kajian menunjukkan bahwa standar <em>tartil</em> mencakup dimensi teknis, dari segi pengetahuan dan pemahaman teori serta praktik <em>talaqqi</em> dan pengulangan. Pandangan Ibrahim As-Samannudi memperluas pengertian <em>tartil</em> sebagai standar pembacaan yang sesuai dengan syariat dan sunnah Rasulullah.</p>Ahmad Ziyadurrahim Fidrik
Copyright (c) 2026 Ahmad Ziyadurrahim Fidrik
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-122026-05-124110311410.61930/jsii.v4i1.1473From Profit To Falah; Shifting Value Paradigms in Digital Economy from the Perspective of Islamic Economic Philosophy
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1566
<p><em>The development of the digital economy has driven an increasingly profit-oriented orientation in economic activity, often neglecting ethical values, justice, and social welfare. This situation has given rise to fundamental issues related to social inequality, resource exploitation, and the blurring of moral values in modern economic practices. This article aims to analyze the shift in the value paradigm from a profit-oriented orientation to the concept of falah in the digital economy, based on the perspective of Islamic economic philosophy. The research method used is library research with a qualitative-descriptive approach, through an analysis of classical and contemporary literature relevant to Islamic economics, the philosophy of values, and the digital economy. The results of the study indicate that Islamic economics offers a more holistic value paradigm, where falah is understood as well-being in this world and the hereafter, encompassing material, spiritual, and social dimensions. The application of the values of monotheism, justice, balance, and moral responsibility in the digital economy has the potential to direct economic activity not only toward efficiency and profit, but also toward sustainability and the welfare of the community. Thus, the paradigm shift from profit to falah is a crucial foundation for building an ethical and just digital economy in accordance with Islamic economic principles</em></p>Resty AmeliaBunga Cinta CahayaZaharani TirtaHavis Aravik
Copyright (c) 2026 Resty Amelia, Bunga Cinta Cahaya, Zaharani Tirta, Havis Aravik
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-122026-05-124111512610.61930/jsii.v4i1.1566Ibrah Eksistensial: Menggali Makna Penciptaan Lalat dan Rayap dalam Al-Qur-an
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1570
<p>Penelitian ini bertujuan mengkaji ayat-ayat tentang lalat dalam QS. Al-Hajj [22]:73 dan rayap dalam QS. Saba [34]:14 melalui pendekatan tafsir saintifik dengan tetap berpijak pada kerangka tafsir tematik. Fokus utama penelitian adalah mengungkap makna teologis dan simbolis kedua ayat, serta keterkaitannya dengan temuan ilmiah dalam bidang biologi dan ekologi serangga. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis tematik, yaitu menghimpun ayat-ayat terkait, menelaahnya berdasarkan penafsiran para ulama khususnya dalam Tafsir Al-Misbah kemudian mengaitkannya secara proporsional dengan data ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lalat dalam Al-Qur’an berfungsi sebagai perumpamaan untuk menegaskan kelemahan makhluk selain Allah sekaligus mengandung kritik terhadap kesombongan manusia, di samping memiliki kompleksitas biologis seperti sistem antibakteri alami. Sementara itu, rayap berperan sebagai simbol pengungkapan kebenaran yang menegaskan keterbatasan pengetahuan makhluk, serta memiliki fungsi ekologis penting sebagai pengurai dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan tafsir saintifik dapat memperkaya pemahaman ayat tanpa menggeser makna teologisnya, selama tetap berada dalam koridor metodologis yang proporsional. Dengan demikian, lalat dan rayap tidak hanya merepresentasikan simbol teologis, tetapi juga menunjukkan keterhubungan antara wahyu dan realitas ilmiah secara lebih kontekstual.</p>Akhmad DasukiRian HidayatMahda Mahda
Copyright (c) 2026 Akhmad Dasuki, Rian Hidayat, Mahda Mahda
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-152026-05-154112714410.61930/jsii.v4i1.1570Peran Pendidikan Dalam Kebudayaan Dan Perubahan Sosial
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1579
<p>Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk, mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan sekaligus menjadi agen utama dalam mendorong perubahan sosial. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pendidikan, kebudayaan dan perubahan sosial dalam perspektif sosiologi pendidikan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan berfungsi sebagai media transmisi nilai-nilai budaya, sarana pembentukan identitas sosial serta instrumen mobilitas sosial. Selain itu, pendidikan juga berperan sebagai agen perubahan yang mampu mendorong inovasi, modernisasi, serta transformasi sosial dalam masyarakat. Dengan begitu pendidikan juga dapat menjadi sarana reproduksi ketimpangan sosial apabila tidak dikelola secara adil dan inklusif. Maka diperlukan sistem pendidikan yang responsif terhadap dinamika sosial dan budaya agar mampu menciptakan masyarakat yang berkeadilan dan berkelanjutan.</p>Anis SulistianiNurlaelawati NurlaelawatiJalaludin Jalaludin
Copyright (c) 2026 Anis Sulistiani, Nurlaelawati Nurlaelawati, Jalaludin Jalaludin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-162026-05-164114515210.61930/jsii.v4i1.1579Peran Ulama Nusantara Dalam Pengembangan Pendidikan Islam Tradisional Di Indonesia
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1586
<p>Pendidikan Islam tradisional di Indonesia menghadapi tantangan relevansi di tengah arus modernisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran strategis ulama Nusantara dalam mempertahankan dan mengembangkan sistem pendidikan tersebut. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka <em>(library research)</em> terhadap 25 literatur otoritatif, penelitian menemukan bahwa ulama Nusantara bertindak sebagai arsitek peradaban melalui penguatan jaringan intelektual dan sanad keilmuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi institusional dari surau dan pesantren menuju madrasah, serta metodologi pengajaran khas, berhasil menjaga eksistensi pendidikan Islam yang moderat dan adaptif di Indonesia</p>Falih Lutfi FauziahMiftahulanwar MiftahulanwarPuput Rosyidah
Copyright (c) 2026 Falih Lutfi Fauziah, Miftahulanwar Miftahulanwar, Puput Rosyidah
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-222026-05-224115317210.61930/jsii.v4i1.1586Negosiasi Adat Dan Agama Dalam Tradisi Batimung Masyarakat Banjar Analisis Konstruksi Sosial Thomas Luckmann
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1573
<p>Tradisi batimung merupakan ritual mandi uap herbal yang dilakukan menjelang pernikahan dalam budaya masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna tradisi batimung, bentuk negosiasi adat dan agama dalam pelaksanaannya, serta proses konstruksi sosial yang terjadi di dalamnya berdasarkan perspektif Thomas Luckmann. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menelaah berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batimung mengandung makna fisik, simbolis, dan sosial sekaligus, serta menjadi ruang negosiasi antara nilai-nilai adat Banjar dan ajaran Islam melalui reinterpretasi, penyaringan elemen kepercayaan, dan penyesuaian syariat. Dalam kerangka konstruksi sosial Luckmann, batimung merupakan realitas sosial yang terbentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi yang berlangsung lintas generasi.</p>Muhammad RamdaniRizky Akbar Mubarakh Munthe
Copyright (c) 2026 Muhammad Ramdani, Rizky Akbar Mubarakh Munthe
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-222026-05-224117318410.61930/jsii.v4i1.1573Desain Instrumen Asesmen Berbasis HOTS untuk Mengukur Kemampuan Analisis dan Evaluasi Siswa
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1559
<p>Latar belakang penelitian ini didasari oleh urgensi transformasi paradigma pendidikan abad ke-21 yang menuntut penguasaan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Di tengah dinamika disrupsi informasi, kemampuan analisis dan evaluasi menjadi kompetensi esensial bagi siswa untuk memecahkan masalah kompleks secara logis dan kritis. Namun, praktik asesmen di lapangan sering kali masih didominasi oleh instrumen yang berorientasi pada ranah kognitif tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills), yang hanya menguji aspek hafalan dan pemahaman prosedural. Kesenjangan antara tuntutan kurikulum dengan realitas alat ukur ini menyebabkan potensi intelektual siswa tidak tergali secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan desain instrumen asesmen yang secara spesifik dirancang untuk menstimulasi serta mengukur kemampuan analisis dan evaluasi sebagai indikator kemandirian berpikir peserta didik.</p> <p>Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) dengan mengadopsi model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Tahapan penelitian meliputi analisis kebutuhan kurikulum, perancangan kisi-kisi instrumen berbasis taksonomi kognitif level C4 dan C5, serta pengembangan butir soal dengan stimulus kontekstual. Data dikumpulkan melalui teknik validasi ahli (expert judgment) untuk menguji validitas isi dan uji coba lapangan pada skala terbatas untuk mengukur reliabilitas serta kualitas psikometrik butir soal. Analisis data dilakukan secara kualitatif untuk masukan revisi dari para ahli dan secara kuantitatif untuk menguji tingkat kesukaran, daya pembeda, serta validitas empiris instrumen menggunakan perangkat lunak statistik.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain instrumen asesmen berbasis HOTS yang dikembangkan valid secara teoretis dan reliabel secara empiris untuk mengukur kemampuan analisis dan evaluasi siswa. Penggunaan stimulus multimedia dan kasus nyata terbukti mampu memicu keterlibatan kognitif yang lebih dalam dibandingkan soal konvensional tanpa stimulus. Temuan penelitian mengidentifikasi bahwa siswa mampu menunjukkan ketajaman analisis dalam mengorganisasikan informasi dan objektivitas dalam mengevaluasi argumen ketika diberikan standar kriteria yang jelas melalui rubrik penilaian analitis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi instrumen HOTS secara konsisten tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai media habituasi berpikir kritis yang fundamental bagi pengembangan kualitas sumber daya manusia di masa depan.</p>Dodi IrawanSiti Banati Sholiha
Copyright (c) 2026 Dodi Irawan, Siti Banati Sholiha
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-242026-05-244118520010.61930/jsii.v4i1.1559Perlindungan Anak Dalam Perspektif Hadis Dan Hak Asasi Manusia: Studi Kasus Kekerasan Terhadap Siswa di Maluku
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1606
<p>Perlindungan anak adalah kewajiban fundamental dalam Islam dan hukum hak asasi. Penelitian ini menganalisis kasus kekerasan yang menyebabkan kematian siswa madrasah tsanawiyah usia 14 tahun di Kota Tual (Februari 2026) dari perspektif hadis Nabi dan kerangka HAM. Metode kualitatif normatif dengan studi kasus digunakan, meliputi analisis teks hadis, kajian sanad dan kualitas hadis, serta telaah instrumen hukum nasional dan internasional. Hasil menunjukkan kekerasan tersebut bertentangan dengan nilai kasih sayang dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī No. 5997 dan Ṣaḥīḥ Muslim No. 2318, serta melanggar hak hidup dan perlindungan anak menurut Konvensi PBB dan UU No. 35/2014. Mendesak sinergi nilai Islam dan hukum positif.</p>Rasyid HidayatullahKhairunnisa KhairunnisaSenia Wati
Copyright (c) 2026 Rasyid Hidayatullah, Khairunnisa Khairunnisa, Senia Wati
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-262026-05-264120121810.61930/jsii.v4i1.1606Rekonstruksi Berkah dan Politik Uang: Analisis Kritis terhadap Praktik Sedekah di Kalangan Kelas Bawah
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1575
<p>Praktik politik uang (<em>money politics</em>) di Indonesia terus menjadi ancaman bagi kualitas demokrasi, dengan data menunjukkan bahwa mayoritas kehadiran masyarakat di TPS dipengaruhi oleh imbalan materi daripada kesadaran politik. Fenomena ini menjadi sangat krusial diteliti karena adanya upaya kandidatpolitik membungkus transaksi suap menggunakan istilah keagamaan seperti "berkah" dan "sedekah" untuk memanipulasi masyarakat kelas bawah yang terhimpit secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis bagaimana rekonstruksi makna istilah religi tersebut digunakan sebagai alat normalisasi praktik politik uang guna melanggengkan kesadaran magis. Data dikumpulkan melalui studi pustaka (<em>library research</em>) dari berbagai sumber literatur dan data statistik, yang kemudian diolah menggunakan teknik deskriptif-analitis dengan pisau analisis sosiologi kritis Paulo Freire. Temuan tulisan ini secara konkret menunjukkan bahwa konstruksi makna "berkah" dan "sedekah" telah mereduksi nilai sakral agama menjadi instrumen transaksional yang menjinakkan daya kritis masyarakat. Kondisi ekonomi yang tertekan memaksa kaum tertindas terjebak dalam kesadaran magis dan beban psikologis hutang budi (<em>cultural scaffolding</em>), sehingga menghambat tercapainya <em>conscientização</em>. Akibatnya, politik uang tidak lagi dianggap sebagai pelanggaran etika, melainkan bantuan sosial yang wajar diterima. Pembebasan politik sejati memerlukan pendidikan yang membebaskan dan rekonstruksi pemahaman keagamaan yang autentik untuk mengembalikan kedaulatan rakyat.</p>Rizal RizalArja Amin Munashoha
Copyright (c) 2026 Rizal Rizal, Arja Amin Munashoha
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-282026-05-284121923610.61930/jsii.v4i1.1575Reorientasi Pertanyaan Sebagai Strategi Edukasi: Analisis Uslub Al-Hakim Dalam Qs. Al-Baqarah: 189, 215 dan Al-Anfal: 1
https://ejournal.lapad.id/jsii/article/view/1621
<p>Kajian terhadap keistimewaan retorika Al-Qur’an, khususnya uslub al-hakim, masih terbatas dari sudut pandang pedagogis. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan uslub al-hakim pada QS. Al-Baqarah: 189, 215, dan QS. Al-Anfal: 1 sebagai strategi edukasi Al-Qur’an dalam membentuk cara berpikir umat. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan, dengan analisis menggunakan kerangka ‘ilm al-badi’ dalam ilmu balaghah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga ayat tersebut menerapkan pola uslub al-hakim secara konsisten: QS. Al-Baqarah: 189 mengalihkan pertanyaan astronomis tentang hilal menuju fungsinya sebagai penanda waktu ibadah; QS. Al-Baqarah: 215 menggeser pertanyaan tentang jenis harta yang diinfakkan kepada prioritas penerimanya; dan QS. Al-Anfal: 1 mentransformasi sengketa kepemilikan harta rampasan menjadi perintah rekonsiliasi berbasis ketakwaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa uslub al-hakim bukan sekadar teknik retorika, melainkan filosofi pendidikan Al-Qur’an yang secara aktif membentuk aql al-awlawiyat—akal yang peka terhadap prioritas—pada diri penerimanya.</p>Hairul RijalMunawarah MunawarahAkhmad Dasuki
Copyright (c) 2026 Hairul Rijal, Munawarah Munawarah, Akhmad Dasuki
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-302026-05-304123724610.61930/jsii.v4i1.1621