Pengasuhan Qur’ani: Relevansi Kisah Nabi Yusuf dengan Negative Inner Child
DOI:
https://doi.org/10.61930/jsii.v4i1.1503
Keywords:
Era Digital, Kisah Nabi Yusuf, Negative Inner Child, Pengasuhan Qur’aniAbstract
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian individu, khususnya melalui pengasuhan yang merupakan amanah dalam Islam. Namun, di era digital, tantangan pengasuhan semakin kompleks dengan adanya arus informasi dan media sosial yang memengaruhi pembentukan karakter dan kepribadian individu. Fenomena negative inner child, yang berakar pada luka masa kecil yang belum terobati, kini menjadi isu relevan, terutama terkait dengan kecemasan dan ketidakpuasan diri. Berdasarkan Laporan Digital 2024, lebih dari 5 miliar pengguna media sosial global memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang turut memperburuk kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh negative inner child terhadap individu, mengeksplorasi relevansi kisah Nabi Yusuf dengan konsep ini di era digital, dan menggali panduan pengasuhan Qur’ani yang dapat mengatasi negative inner child. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, data dikumpulkan dari sumber primer (Al-Qur’an, hadis, dan kitab tafsir) serta sumber sekunder (artikel, buku, dan penelitian terkait). Analisis dilakukan secara deskriptif dengan metode tafsir maudhu’i sebagaimana dirumuskan oleh Al-Humaidhi, untuk mengintegrasikan nilai Qur’ani dengan teori psikologi modern dalam konteks pengasuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negative inner child berpengaruh signifikan terhadap kondisi psikologis serta pembentukan dan perkembangan karakter. Kisah Nabi Yusuf memberikan teladan pengasuhan berbasis kasih sayang, pengampunan, ketahanan emosional, dan penanaman iman, yang relevan untuk mengatasi luka emosional berupa negative inner child dan membangun karakter tangguh, terutama di era digital yang penuh distraksi sosial. Penelitian ini menawarkan solusi holistik berupa pendekatan preventif (pencegahan), korektif (perbaikan), dan preservatif (pemeliharaan karakter), sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan kajian pengasuhan, psikologi, dan nilai-nilai Qur’ani.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Khoirunnisa Khoirunnisa

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









